Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A. - Muda adalah Kekuatan

Shofwan Karim Mobile

Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A. - Muda adalah Kekuatan

YLIA Canada World Youth Desember 2013: Perlakuan Sama dalam Mendapatkan Pekerjaan

Selasa, 23 April 2024 | 20:42 WIB | Pendidikan | ADMIN | 46 klik
YLIA Canada World Youth Desember 2013:   Perlakuan Sama dalam Mendapatkan Pekerjaan
Shofwan Karim dan Isteri di Terminal Bus Ottawa, Kanada, Februari 2015. (Dok/SK)

 

 

YLIA Canada World Youth Desember 2013: 
Perlakuan Sama dalam Mendapatkan Pekerjaan 

Oleh Shofwan Karim 

 

Truro, adalah kota kecil dengan penduduk 12 ribu orang. Mayoritas mereka kaum kulit putih. Mereka adalah keturunan Eropa 93 % dari total waraga Truro yang dulu asalnya imigran  spontan ke sini  sejak lebih 3 abad lalu.  Selebihnya mereka dari kulit berwarna. Baik keturunan Asia, Cina, Afrika dan Latin Amerika. Kota ini terlalu besar untuk penduduk sejumlah itu dan terlalu lengkap fasilitasnya di bandingkan kota-kota kita di Tanah Air dengan penduduk 1 Juta jiwa.  

 

Salah satu tempat kerja relawan dengan konterpart dari  Indonesia-Canada World Youth ini namanya Colchester Community Workshops.  Adalah sebuah pusat penampung 70 orang warga berusia 18 sampai di atas 60 tahun bahkan 70 tahun.  

 

Mereka merupakan warga yang berkemampuan khusus alias  tidak sama dengan warga lain atau bahasa di sini disebut disability people. Ada yang bermasalah secara intelektual dan mental atau tidak normal. Ada yang secara fisik sejak lahir atau tiba-tiba karena suatu sebab menjadi buta, pekak dan bisu atau yang kita sebut tuna wicara dan tuna rungu.  

 

Mereka yang beginilah yang dipekerjakan pada pusat ini. Mereka yang potensial  dilatih melakukan sesuatu. Mulai dari membuat pernik-pernik dan kerja tangan yang sederhana, membersihkan pakaian dan furniture, tas, sepatu atau apa saja yang didonasi oleh penduduk kota.  

 

Semua jenis barang tadi disortir. Mana yang layak jual dipajang di lantai dasar . Selebihnya diperbaiki, direkonstruksi, dimodifikasi  atau diolah lagi  menjadi produk baru. Yang tidak bisa diolah, dijual lagi kepada pihak lain yang punya teknologi untuk itu. Semuanya dikerjakan  oleh mereka yang berkemampuan khusus tadi. Inilah yang mungkin sekarang disebutkan perlakuan inklusif bagi semua warga Negara. Tanpa mengabaikan mereka yang tidak sama kemampuan lahiriah, batiniah dan intelektualitasnya.   

 

Susan McCallum, Manajer Operasi workshops mengatakan bahwa mereka yang cacat fisik, pikiran dan mental dapat diarahkan dan diasuh untuk bekerja disini. Mereka sebenarnya menerima tunjangan sosial dari Pemerintah Federal dan Lokal. Akan tetapi mereka lebih senang bekerja. Dan workshop ini memberikan gaji harian yang sesuai dengan standart . Mungkin secara fisik, non-fisik, mental dan intelektual mereka  tidak normal. Tetapi mereka butuh semangat hidup dan memiliki kreatifitas serta inisiatif seperti warga normal lainnya. 

 

Secara filosofis, mereka benar-benar menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Dan dalam hal ini, inisiatif warga sivil atau civil society iniciative sangat signifikan. Tidak hanya menuntut pemerintah,  meski pemerintah tidak berlepas tangan. Di sini kelihatan, bahwa tingkat yang tinggi dalam  pertumbuhan ekonomi, industri dan teknologi pada Negara maju seperti Kanada, juga mampu memberikan kesadaran warga yang tinggi pula serta kepedulian kepada sesama yang cukup bermakna. 

Ilustreasi: Shofwan Karim dan Isteri Bersama Dr. Wiliam "Bill" Fallis, Koordinator CWY-Indesia-PPIK 1980-1981 mengantar Suam-Isteri ini Bandara Internasional Toronto, Februari 2015. (Foto: Istimewa)

 

 

Sepengetahuan  saya di Indonesia hanya satu atau dua  lembaga masyarakat yang  melaksanakan program seperti ini, di Yogya dan Jakarta. Panti asuhan  yatim, panti jompo dan pusat rehabilitasi bermasalah khusus, perlu dikelola lebih serius. Para relawan Indonesia di Truro kami minta untuk belajar banyak dari lembaga ini, bukan hanya bekerja sebagai relawan biasa tetapi meresapi makna paling dalam dari inisiatif ini serta mempelajari manajemen dan operasional pengelolaannya. 

 

Ketika delegasi Indonesia mengajak mereka bercakap-cakap, mereka amat antusias. Tentu saja dengan cara mereka yang khsus tadi. Mata yang tidak bisa menatap wajah kami. Ucapan yang aneh, tetapi kami mengerti. Dan isyarat-isyarat yang terpaksa kami tanyakan ke beberapa staf pendamping.  

  

Selain di Truro, terdapat 28 tempat yang tersebar di berbagai kota dan kampung atau komunitas Provinsi Nova Scotia.  Work Shops ini hanya ditangani oleh Manager dan Staf beberapa orang dan diarahkan oleh beberapa direksi. Sepertiga dari dana yang diperlukan untuk menjalankan program ini datang dari Pemerintah Lokal dan Provinsi. Dua pertiga lagi anggaran diperoleh dari usaha seperti yang diutarakan tadi. Kata Susan, “we make money and give hope” (kami tidak hanya mencetak uang tetapi juga memberikan harapan.*** (Bersambung) http://flip.it/XecSDB 

 

Komentar Artikel